By:
Theilaf’s
“Berhentilah
melakukan semua hal bodoh ini, Hendrick!” Sentak Leo.
Hendrick berdiri dengan kasar.”Papa boleh saja kesal atas kehancuran
karir papa dalam bidang music. Tapi, jangan pernah meminta Hendrick
menghentikan semua ini, Pa.” Pemuda itu meninggalkan Leo yang masih dilumuri
emosi.
Pemuda itu pergi meningglakan rumah. Malam belum begitu larut. Ia
mendatangi sebuah Cafe yang letaknya tak jauh dari kompleks rumahnya. Hendrick
duduk tepat di depan Panggung yang ada di dalam café itu. Suasana Café itu
tidak terlalu ramai.
“Selamat malam, semua.” Suara disebrang sana mengalihkan focus para
pengunjung.
“Ini dia yang aku tunggu.” Suara lainnya terdengar.”Penyanyi dengan
suara emas.”
“Aku bisa betah berada di café ini, jika gadis itu terus bernyanyi.”
Sambung pemuda lainnya.
Hendrick tak menggubris kata-kata mereka. Ia terlalu kalut dalam emosi
mengingat perkataan Ayahnya yang selalu melarangnya unutk terjun di dunia
music.
Alunan music memenuhi ruangan café itu. Semua orang yang tadinya ramai
kini terdiam setelah gadis yang ada di depan Panggung itu mulai mengeluarkan suaranya.
“Alenaa..” Gumam Hendrick. Pemuda itu tercengang melihat gadis di
depannya.
***
“Jadi selama ini kau bekrja sebagai penyanyi Café?” Hendrick
mengintrogasi. Mereka sedang berada di belakang Café. Hendrick menarik gadis
itu tepat setelah Alena selesai bernyanyi.
Alena melipat tangan ke dada.”Bukan ursanmu.” Jawab Alena ketus.
Hendrick mendengus.”Jelas itu urusanku. Kamu adalah adikku.”
“Lebih tepatnya adik tirimu.” Sela Alena.”Apa urusanmu dengan aku
bernyanyi di Café?”
“Jika Ayah tahu kau melakukan ini, hal paling buruk akan terjadi.” Balas
Hendrick.
“Itu kan jika Ayah tahu.” Alena membelakangi Hendrick.”Lain halnya jika
ada yang memberitau Ayah akan hal ini. Maka hal buruk itu akan terjadi.”
Alena meninggalkan Hendrick yang masih terdiam di tempatnya.
“Adik tiri..” Gumam Hendrick.
Gadis itu hanya menganggap Hendrick tidak lebih dari seorang Kakak tiri.
Kenapa setega itu Alena kepadanya? Padahal selama ini Hendrick sudah berusaha
menyayangi Alena. Bahkan ia tak pernah menganggap bahwa Alena adalah adik
tirinya.
2 Bulan kemudian….
Plaaakkk…
Alena memegangi pipinya. Sakit itu bukanlah apa-apa dibandingkan rasa
kesalnya terhadap Hendrick saat ini.
“Sekali lagi aku dengar kau menyanyi di café itu, Aku tak segan-segan memasungmu
selama hidupmu.” Ucap Leo dengan penuh emosi.
Lagi-lagi laki-laki itu tak bisa menahan amarah hanya karena anaknya
sedang mengarungi dunia music.
“Apa salahnya, Yah? Bukankah dengan Alena bekerja di café itu sebagai
penyanyi adalah hal yang bagus? Alena bisa memperoleh uang buat pengobatan
Ayah.”
“Sekali ayah bilang berhenti. Berhenti Alena.” Ucap Leo kasar.”Menyanyi
bukanlah satu-satunya cara agar kau bisa mendapat uang. Kau bisa kerja di restaurant,
supermarket atau pun jadi seller.”
Alena pergi meninggalkan laki-laki itu dalam keadaaan kesal.
***
“Beginikah caramu melampiskan rasa cemburumu itu?” Ucap Alena seketika
ia melihat Hendrick yang sedang asik menikmati pemanangan di taman kota.
Hendrick mengernyit.”Apa maksudmu?”
“Sudahlah tak perlu berpura-pura. Kau sengaja melapor pada Ayah aku
bekerja sebagai penyanyi di Café itu, kan?” Alena mendengus.
Hendrick tak mengerti maksud Alena.
“Mengapa tidak langsung saja kau singkirkan aku dari keluargamu?”
“Kau salah paham, Alena.” Sela Hendrick.
“Salah paham apanya? Semua sudah jelas.”
Hendrick mulai frustasi. “Terserah apa katamu. Apa untungnya aku
melakukan hal itu? Bukankah kau bilang ini bukanlah urusanku. Mengapa aku harus
ikut campur?”
“Kau memang pintar berpura-pura Hendrick.”Ucap Alena.
“Aku tak mungkin melakukan hal itu padamu, Alena.” Hendrick mulai
mendekat.
“Kau boleh saja berkata seperti itu. Kita tidak tahu bagaimana rupa asli
orang yang berada di sekitar kita, bukan?” Ucap Alena cepat.
“Tidak denganku, Alena. Percayalah.” Hendrick menggenggam tangan mungil
Alena.
Saat itu ada desiran aneh menerpa perasaan seorang gadis bernama Alena.
Apalah daya Alena mengartikan setiap desiran itu, jika saat ini yang ada dalam
hatinya hanyalah rasa kesal.
Alena menepis tangan Hendrick.”Berhentilah membuat pengakuan palsu.”
Kalimat itu berhasil menyayat luka di hati Hendrick. Memang bukanlah
luka untuk pertama kali. Sudah berpuluh-puluh kali ia merasakan luka dalam
hidupnya. Mulai dari kepergian ibunya, melepaskan music dari hidupnya, dimarahi
oleh ayahnya, hingga adik yang ia sayangi lebih itu pun juga sudah mampu
membuat hatinya terluka untuk yang keberkian kali.
Pukul 08.13. Hendrick baru saja tiba di rumah. Leo sedang duduk di ruang
tamu sambil membaca Koran.
“Ayah sudah menjodohkanmu dengan Ellena.” Kalimat itu berhasil
menghentikan langkah Hendrick.
Kenyataan apa lagi yang harus ia hadapi kali ini? Mengapa dengan
mudahnya sang Ayah mencampuri hal mengenai hatinya. Tidak bisakah laki-laki itu
bertanya tentang perasaan seorang Hendrick?
“Aku tidak mencintai Ellena, Ayah.” Sela Hendrick.
“Tanggal perjodohanmu dua minggu lagi. Jadi kau harus segera menyiapkan
diri.” Ucap Leo yang masih focus pada korannya.
“Hendirck tidak mencintai Ellena, Ayah.” Ucap Hendrick lagi. Kali ini
suaranya lebih dalam dan tegas.
“Omong kosong dengan cinta.” Balas Leo.
Hendrick meremas kepalanya. Frustasi. “Apakah ayah dulu juga tidak
mencintai, Ibu?”
Leo mendongakkan kepalanya. Bagaimana mungkin ia tidak mencintai isteri
semata wayangnya itu. Leo bahkan rela melakukan apa saja demi sang istri. Tapi,
itu dulu sebelum mengetahui kabar perselingkuhan sang istri dengan laki-laki
lain. Hingga menumbuhkan janin baru dalam rahim sang istri. Tapi, waktu itu Leo
tak menghiraukan itu. Karena ia sangat mencintai istrinya. Namun semua
kesabaran yang Leo miliki lenyap setelah sang Istri lebih memeilih pergi
bersama selingkuhannya dan menyisakan luka yang amat dalam di hati seorang Leo.
Hingga ia buta akan rasa cinta. Hingga menjatuhkannya dalam keterpurukan. Tiada
lagi pasangan duet yang terkenal setelah itu. Karir Leo dan sang istri hancur
ditelan waktu.
“Buat apa mempertaruhkan hati demi seorang perempuan? Cinta bukanlah
jaminan kuat agar kau bisa hidup bahagia.”
“Lalu apakah aku akan bahagia, Ayah?”
“Cepat atau lambat kau akan bahagia.” Jawab Leo mantap.
Alena yang mendengar pertengkaran itu pun hanya bisa termangu menatap
foto keluarga yang ada di atas meja. Kabar itu layaknya pedang yang
mencabik-cabik hati Alena. Baru dua hari yang lalu, Alena menyakiti hati
seorang Hendrick. Tapi, hari ini ia menyaksikan sendri betapa tersiksanya
seorang Hendrick selama ini. Banyak hal yang Alena tidak ketahui mengenai
hendrik. Mulai dari gitar pemberian dari sang ibu yang dibakar oleh sang ayah,
di caci dan di maki karena membela Alena, dan sekarang ia harus menikahi
perempuan yang tak ia cintai.
***
“Kau mau aku buatkan Teh?” Tanya Alena.
Hendrick terpelongok melihat prubahan Alena yan sektika menjadi ramah
terhadapnya.”Tidak perlu. Aku bisa membuatnya sendiri nanti. Lagi pula ini
masih pagi.”
“Justru karena ini masih pagi, menyedu the akan lebih nikmat.”
Hendrick menatap lurus.”Apa katamu saja.”
Seminggu berlalu dengan cepat. Alena dan Hendrick menjadi akrab. Mereka
bahkan saling menguatkan satu sama lain. Menyanyi bersama ketika sang ayah
tidak ada di rumah.
“Hendrick, lihat aku bawa apa?” Alena menunjukkan baju pengantin
laki-laki ke hadapan Hendrick.
Pemuda itu menatap datar, tanpa ekspresi. Tiba-tiba Hendrick berdiri,
mengambil baju ditangan Alena dengan kasar lalu melemparnya ke tempat
sembarangan. Hendrick mernarik Alena dalam pelukannya.
“Tak bisakah aku memilih pasangan hidupku sendiri?” Ucap Hendrick.”Sakit
rasanya harus melepas cinta yang aku mau hanya karena sesorang yang tidak aku
cintai.”
Alena merasakan bagaimana tersiksanya hati Hendrick. Gadis itu pun
memeluk erat tubuh Hendrick. Menyalurkan seluruh perasaanya.
Hendrick melepaskan pelukannya.”Betapa cengengnya aku.” Pemuda itu
menghapus butiran air mata yang sempat jatuh tadi. Hendrick mengeluarkan dua
buah amplop.
“Apa itu Hendrick?” tanya Alena penasaran.
“Ini surat untukmu dan ayah.” Hendrick memberikan surat itu pada
Alena.”Bacalah setelah aku pergi.”
***
Tiga tahun setelah kepergian Hendrick. Banyak perubahan yang terjadi
dalam hidup Alena. Semenjak perginya Hendrick yang mengharuskan perjodohan
antara dia dan Ellena gagal, banyak hal buruk menimpa Leo. Laki-laki itu
semakin sering marah-marah. Tak jarang Alena menjadi pelampaisan kemarahan Leo.
Alena selalu menanti kedatangan Hendrick. Kakak yang selalu melindunginya.
Sampai Alena harus menikah dengan Fernan-karena paksaan dari Leo- Ia masih
setia menunggu kedatangan Hendrick yang ia katakana akan kembali dengan segera dalam surat yang
ia berikan pada Alena tiga tahun silam.
Kantong belanja di tangan Alena terjatuh seketika setelah melihat sosok
Hendrick berdiri tepat di depannya. Gadis itu mulai menangis.
“Kemana saja kau selama ini?” Ucap Alena terbata-bata.
Hendrick hanya menatap Alena dengan persaan miris. Pemuda itu memejamkan
mata sejenak. Menahan air mata yang hampir ke luar. Ia tak boleh menangis.
Ucapnya.
Hendrick berjalan cepat menuju Alena. Memeluk gadis itu. Perasaan
Hendrick hancur seketika. Begitu pula dengan Alena yang tak bisa menghentikan
air matanya.
Alena memukul-mukul tubuh Hendrick hingga ia kehilangan tenaga.”Mengapa
kau biarkan semua ini terjadi padaku, Hendrick? Mengapa kau tak melindungiku
lagi? Mengapa kau pergi saat aku sangat membutuhkanmu? Saat aku mulai
mencintaimu? Kenapa? Kenapa kau biarkan aku menikah dengan pemuda selain kamu
Hendrick? Kenapa?” Tenaga gadis itu mulai melemah.
Kata-kata Alena berhasil membuat air mata seorang Hendrick luruh. Betapa
bodohnya dia meninggalkan Alena.
“Maafkan aku, Alena.” Ucap Hendrick lirih.”Andai aku tahu lebih dulu
bahwa kau memiliki perasaan yang sama denganku, aku mungkin tidak akan
meninggalkanmu. Aku tidak akan mungkin pernah rela kau menikah dengan pemuda
lain. Tapi aku terlalu bodoh, Alena. Hingga aku tak menyadari hal semudah itu.”
“Mengapa kau siksa aku seperti ini, Hendrick?”
***